Kepiting Darat Terbesar di Dunia | Papua – Supiori (Kepiting Kelapa)
Bayangkan seekor “monster” darat yang bisa memanjat pohon kelapa, memecah buahnya dengan capit super kuat, dan berukuran sebesar bola basket dewasa. Ini bukan fiksi, melainkan kepiting kelapa (coconut crab atau Birgus latro), krustasea darat terbesar di dunia yang masih berkeliaran bebas di pulau-pulau kecil Indonesia, termasuk Kabupaten Supiori, Papua.
Dalam sebuah petualangan seru bersama tim AWA (ALE WILD), kita diajak menjelajahi keindahan tersembunyi Supiori — dari perjalanan darat menyusuri pantai biru, malam berburu kepiting di pulau tak berpenghuni, hingga menyusuri sungai hutan tropis menuju air terjun mistis. Inilah cerita lengkapnya, yang membuat kita semakin jatuh cinta pada alam Papua yang masih asli.
Perjalanan Menuju Surga Tersembunyi
Petualangan dimulai dari Jayapura, terbang ke Bandara Frans Kaisiepo di Biak, lalu lanjut darat sekitar 85 km ke Kabupaten Supiori. Rute Biak Barat dipilih karena menawarkan pemandangan epik: di satu sisi laut biru tak bertepi, di sisi lain hutan hijau rimbun. Bulan Desember menambah nuansa meriah dengan dekorasi Natal di sepanjang jalan.
Setelah tiba di Sorendiweri (ibu kota Supiori), perjalanan berlanjut ke wilayah barat, Kampung Ayamas di Urmboridori. Di sini, rumah-rumah sederhana berjejer menghadap laut, dan kehidupan masyarakat begitu lekat dengan alam. Sore itu, matahari terbenam di dermaga panjang menjadi momen damai yang tak terlupakan.
Malam Berburu Kepiting Kelapa
Malam tiba, dan petualangan sesungguhnya dimulai. Naik perahu kecil di saat air surut, tim menyeberang ke pulau kecil tak berpenghuni hanya 10 menit dari pantai. Dengan senter sebagai penerang, mereka menyusuri pinggir pantai, akar pohon, dan batang kayu.
Tak lama, cahaya senter menangkap sosok legendaris: kepiting kelapa! Dijuluki kepiting darat terbesar di dunia, hewan ini bisa mencapai berat 4 kg dengan capit yang mampu menghancurkan kelapa matang sekaligus menyeret benda berat. Uniknya, kepiting kelapa sebenarnya anggota keluarga hermit crab (kelomang). Saat kecil, mereka pakai cangkang kerang untuk perlindungan, tapi dewasa tubuhnya mengeras sendiri — tak lagi butuh “rumah” seperti saudaranya.
Di Supiori, kepiting ini mudah ditemui di pesisir tanpa umpan khusus. Warnanya beragam: merah cerah, biru keunguan, atau campuran kilau alami yang membantu kamuflase di antara pasir, batu, dan akar. Aktif malam hari, mereka keluar mencari makan di hutan pantai dan pesisir.
Cara aman memegangnya? Pegang dari belakang dekat pangkal cangkang agar capit tak menjangkau tangan. Satu yang terbesar pun berhasil ditangkap — simbol kekayaan hayati pulau tropis yang masih terjaga.
Menyusuri Sungai ke Air Terjun Wabudori
Setelah dua hari tinggal bersama keluarga lokal (lengkap dengan ikan bakar segar), tim lanjut ke destinasi berikutnya: Air Terjun Wabudori. Menggunakan perahu mesin, mereka menyusuri sungai dari pesisir ke dalam hutan. Melewati hutan bakau lebat, tanaman nipah dan sagu yang menahan erosi, serta masyarakat yang memanen sagu secara tradisional.
Hujan tropis turun, pohon-pohon raksasa membentuk kanopi hijau, kabut tipis di permukaan air — suasana mistis dan menenangkan. Setelah trekking singkat di jalan setapak licin, mereka tiba di air terjun yang deras (musim hujan membuat air keruh dan kuat). Bertingkat-tingkat, air mengalir dari pegunungan Supiori ke laut, dikelilingi pepohonan tinggi. Deburan dan kabut menciptakan hembusan sejuk yang menyegarkan jiwa.
Pesan dari Hutan Terakhir
Supiori bukan sekadar pulau cantik dengan pantai pasir putih dan laut biru alami. Ini bagian dari “hutan terakhir” Papua — paru-paru dunia yang menyimpan keanekaragaman hayati luar biasa. Kepiting kelapa, air terjun, sagu, dan masyarakat adat semuanya bergantung pada kelestarian hutan ini.
Namun, ancaman nyata mengintai: perkebunan sawit berskala besar, eksploitasi tanpa kendali, dan perusakan habitat. Jika dibiarkan, generasi mendatang takkan bisa merasakan keajaiban ini. Menjaga hutan Papua berarti menjaga kehidupan, budaya, dan masa depan.
Petualangan AWA di Supiori mengingatkan kita: alam indah ini bukan milik pribadi, tapi warisan bersama. Mari dukung ekowisata berkelanjutan — kunjungi, nikmati, tapi jangan rusak. Supiori menanti petualang yang menghargai keasliannya.
(Artikel ini terinspirasi dari petualangan ALE WILD / AWA di Supiori di Youtube)





















